“Ini
kali ketiga aku melihat Andito bersama perempuan itu. Di klinik kecantikan langganan kita,” ujar bu Anggi si biang gosip di kawasan
perumahanku. Selentingan kabar yang membuat kuping panas dan hati meradang pun silih berganti. Tapi,
aku coba untuk sabar dan tak terbawa emosi sebelum tahu kebenarannya.
Aku
sangat mempercayai Mas Dito. Tak mungkin
dia tega melakukan itu.Yang kulihat, kurasakan selama ini dia sangat lembut dan
perhatian kepada kami. Satu lagi dia sangat rajin beribadah itu yang membuatku
bertambah yakin Mas Dito setia.
Badanku
sangat letih setelah seharian berkutat
dengan dapur membuat 50 loyang kue bolu pesanan
Tante Rika.Tidurku tak lelap dan sedikit gelisah. Jarum jam menunjukan pukul
12.10 am. Akupun menoleh ke samping, mencari Mas Dito.
”Kemana Mas Dito?”
gumamku.
”Bukankah tadi sudah
tidur duluan? emm... atau mungkin di ruang keluarga sedang nonton tivi,”
tebakku. Akupun beranjak keluar kamar mencarinya.
Kucari di ruang
keluarga tak ada, akupun berjalan ke arah dapur. Oh ternyata di sana. Kulihat Mas
Dito buru-buru menutup teleponnya begitu aku mendekat.
“Udah dulu ya Pak, sampai besok,” ucapnya
menyudahi percakapan. Tapi tak lama kemudian telepone berdering tapi mas Dito
tak menjawab malahan mematikannya.
“Dari siapa mas?” tanyaku.
“Pak Dimar. Biasa
urusan kantor,” jawabnya datar tanpa melihat ke arahku.
“Lah, memang urusannya
penting banget inikan udah malam?” tanyaku menyelidik.
“Gak usah diperpanjang.
Ayo tidur lagi saja!” ajaknya sambil berjalan meninggalkan aku yang dilanda penasaran.
Bagaimana tidak, teleponan tengah malam dan ketika melihatku tiba-tiba
telepon ditutup. Ada nada panggilan lagi, handphone
malah dimatikan.
Mengingat kejadian itu tiba
–tiba ada perasaan aneh menyeruak di kalbuku sampai pagi aku tak bisa tertidur
lelap. Sebelum azan Subuh berbunyi keputuskanku untuk melakukan sholat malam
untuk minta ketenangan diri.
Walaupun yang kulakukan
salah tapi aku tak kuasa menahan diri. Dengan
gerakan yang cepat kuambil handphone Mas
Dito. Di kamar mandi kucoba menyalakannya. Astaga dikotak panggilan masuk tadi
malam tak ada nama Pak Dimar. Archita,
siapa dia?
Belum lagi pertanyaanku terjawab tiba-tiba ada
pesan masuk dari yang namanya Archita.
Mas
koq dimatikan sich!, aku kan masih kangen. Ya udah deh besok juga bisa ketemu
lagi, miss u. Karena handphonenya dimatikan jadi pesan itu baru masuk sekarang.
Badanku gemetar,
tenggorokanku tercekat, dadaku sesak dan limbung. Dengan terhuyung aku keluar
dari kamar mandi. Air mataku meleleh deras. Ya Tuhan aku dikhianati.
Paginya kusiapkan sarapan
seperti biasa. Mencoba tenang dan bersahabat dengan keadaan.
”Pagi Bunda,” sapa Mas
Dito. Akupun hanya bisa menyeringai terpaksa. Sangat pandai dia bersandiwara. Aku
tunggu dia selesai sarapan pagi. Aku masih bersikap sopan dan menahan diri. Tak
enak menanyakan perihal semalam di tempat makan.
“Aku mau ngomong serius,”
pintaku ketika Mas Dito masuk lagi ke kamar.
Dia menoleh ke arahku.
“ada apa sih Bun koq kaku banget?”
“Siapa yang telepon
tadi malam?” tanyaku dengan suara gemetaran.
“Pak Dimar!”
Mas Dito masih saja mau
menutupi kebohongannya dengan mengatasnamakan pak Dimar, atasannya.
“Siapa Archita?” tanyaku sambil menangis
“Eh...Oh, dddia teman
aku Bun!” jawabnya gugup.
“Oh, teman? Bagus sekali
seorang teman kirim pesan kangen dan rindu. engah malam sama suami orang lagi. Aku
tak menyangka Mas, kamu tega membohongi, mengkhianati aku dan anak-anak. Kamu
mau kawin lagi?” ujarku penuh emosi.
“Aku gak ada hubungan
apa-apa, benar Bun,” jawabnya masih
membela diri.
Kuambil handphonenya yang aku simpan di lemari
pakaian. “Lihat panggilan masuk semalam, lihat pesan masuk,” pintaku geram. Mas
Dito tak bisa berkutik lagi, hanya bisa terdiam kaku.Tak kuasa menatap kearahku
yang lagi sesenggukan menangis.
”Aku mau pulang saja Mas,
sudah tak ada gunanya aku disini”.
Dengan sekuat tenaga
dia membujukku untuk tidak pulang ke rumah orangtuaku, akhirnya aku luluh juga,
tapi lebih karena melihat 2 buah hatiku
yang menarik bajuku sambil menangis.”Bunda tak boleh pergi, abang sama adek
dengan siapa?” pinta Kisan dengan berurai air mata. Aku terharu dan
menghentikan langkah. Dengan buliran airmata yang terus mengalir, kupeluk dua
malaikat kecilku dengan erat. Aku harus menjaga mereka.
“Masih ingin kamu
menyakiti kami Mas?” tanyaku .
Aku lihat dia menghapus
kontak yang bernama Archita kemudian mematahkan kartu itu. “Aku berjanji demi
kamu dan anak-anak tak akan berhubungan dengan dia lagi. Demi Tuhan Bun, aku
tak akan mengulanginya lagi,” diapun memeluk kami dan ikut menangis.
Sepertinya aku ingin
mati saja dengan pengkhianatan ini tapi melihat anak-anak aku harus kuat dan
bertahan. Jika aku lemah perempuan itu akan menang. Aku mohon jangan biarkan
dia mengambil suamiku .Kisan dan Nita masih membutuhkan figure ayah. Aku tak mau keluargaku berantakan.Tuntun langkah
suamiku ke jalanMu Rabb dan berikan ketegaran padaku dalam menghadapi masalah
ini. Aku serahkan semuanya padaMu ,biarlah waktu yang akan memulihkan dan
mengobati lukaku.
Graha Siena, 20 Mei 2016
belajar nulis cerpen dewasa euiii
BalasHapus