Terbit di Majalah Bobo, Februari 2015
Uci kucing tampak
murung.Sudah seminggu dia menempati sebuah rumah mewah,tapi kenapa Godi dan
Kiko enggan bersahabat dengannya.
”Apa
karena aku ditemukan di tempat sampah? sehingga mereka jijik dan geli melihatku,”
bathin Uci.
”Aku
bantu geser,ya,” ucap Uci,hendak menolong Godi membawa mangkuk minumnya,tapi
untuk kesekian kalinya dia tak mendapatkan sikap ramah. Kiko ikan Koki pun sama
tak mau menegurnya.
“Ah,mungkin
aku belum terbiasa dengan keadaan di sini.Apa salahnya jika dicoba terus,mungkin
mereka akan berubah ,” gumamnya menghibur diri.
“Ayo,puss..puss..dimakan!”
Nyonya Siena datang,dia membawa semangkuk ikan segar.Uci yang sedari tadi
melamun langsung berhambur ke arah tuan rumah.Nyonya Siena sangatlah baik dan
bertanggung jawab,tak pernah dia membiarkan penghuni-penghuni di sini
kelaparan.
“Kiko,
lihat! ada yang lagi makan enak,maklum di tempatnya yang dulu tak pernah
merasakan itu,”ejek Godi,sambil mengarahkan tangannya ke arah Uci.
Kiko
yang berada di dalam aquarium tersenyum mengejek,kemudian keduanya kompak
terbahak-bahak menertawakan Uci.Dengan sekuat tenaga Uci menahan tangis,tapi ejekan
mereka sangat menyakitkan.Akhirnya dia pun berlari ke belakang.
Hari
mulai gelap,Nyonya Siena belum pulang dari berbelanja.Dengan langkah pasti Uci berjalan meninggalkan rumah
tersebut,hidup di luar jauh lebih bagus pikirnya.
Sementara
malam terus berjalan ,Godi sedikitpun tak bisa tidur.Tampaknya tikus-tikus
sangat gembira,suaranya gaduh,sepanjang malam mereka berpesta.”Gukk..gukk!”
teriaknya,tapi sekelompok tikus-tikus tersebut hanya tertawa geli melihat ulah
Godi. Badan Godi yang gemuk,membuatnya tak bisa berlari kencang untuk menangkap
mereka.
Godi tiba-tiba teringat
Uci.Bagaimana tikus-tikus tersebut lari terbirit-birit dikejar Uci,sehingga tak
ada yang berani mendekat.Rumahpun aman,pantaslah Nyonya Siena sangat perhatian
dengan Uci.
Penyesalan selalu
datang terlambat.Gara-gara iri, takutnya kasih sayang nyonya Siena akan
berkurang kepadanya,Godi pun setiap hari mengganggu Uci. “Maafkan
aku,Ci,”ucapnya sedih.
“Aku berjanji akan
menjadi sahabat baikmu,pulanglah,Ci!” ratap Godi.
Empat hari
berselang,tampak nyonya Siena datang dengan wajah berseri-seri.Dia membuka dus
mie yang telah di lubangi untuk sirkulasi udara.Godi tampak terperangah melihat
siapa yang keluar dari dalam dus tersebut.”Uciiii... !” teriaknya gembira.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar