Terbit di Majalah Bobo tahun 2015
Ical
namanya. Selain pintar dia juga sangat pandai bermain sepak bola. Jadi tidak
heran kalau Pak Lukman selalu menempatkannya sebagai kapten. Sangat berbeda
dengan diriku. Badanku lebih kecil dari teman-teman sebayaku. Prestasiku juga
biasa saja,bahkan aku pernah tidak naik kelas.
Usai
pelajaran olahraga, Pak Lukman memanggilku. “Ravan, mulai besok kamu latihan, ya!”
“Latihan
apa, Pak?” tanyaku semangat.
“Sepakbola.
Jadwalnya bisa kamu lihat di papan
pengumuman dekat kantor guru!” ujar pak Lukman ramah.
“Koq,
saya, Pak?” aku masih belum percaya dengan apa yang aku dengar.
“Kenapa
ragu? Bapak pernah lihat kamu bermain bola bersama teman-temanmu. Ternyata kamu
pintar juga, ya?” puji Pak Lukman sembari menepuk bahuku.
Dengan
semangat empat lima aku berangkat latihan, sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Teman-teman yang lain sudah berkumpul di lapangan dekat sekolah, tak terkecuali
dengan Ical. Sepatu dan kaos bola merk terkenal membuatnya tambah keren.
“Anak
baru, ya?” tegur Ical sedikit keras.
“Ya,
dong, Cal!” jawabku penuh percaya
diri.
“Sok akrab, kamu!” jawabnya ketus.
Kemudian pergi meninggalkanku tanpa basa-basi.
Aku
sangat kecewa dengan ucapannya tadi. Walaupun kita beda kelas, cuma dipisahkan
satu sekatan tembok, tidak mungkin dia tidak mengenalku.
Tampaknya
Ical kurang suka aku berada di dalam team sepak bola sekolah. Dengan teman-teman
yang lain dia bisa akrab, bersenda gurau, tertawa riang. Denganku bertegur sapa
saja dia enggan. Bahkan pernah dia mengempeskan sepedaku, kata Dion. Tapi Ical
tak mau mengakuinya.
”Anak-anak,
seminggu lagi pertandingan memperebutkan piala bupati , Bapak harap kalian
latihan dengan serius!” arahan pak Lukman membuyarkan lamunanku.
“Horeee...”
teman-teman bersorak gembira. Aku sepertinya tidak senang mendengar berita itu.
Semua itu karena sikap Ical.
“Ravan,
kamu sakit?” tiba-tiba pak Lukman menyebut namaku.
“Ehh..ahh
enggak, Pak,” jawabku gugup.
“Bapak
kira kamu sakit, konsentrasi,ya!”
“Kucingnya
yang sakit, Pak!” sindir Ical.
“Haha....”
tanpa dikomando teman-teman menertawakanku. Aku sangat malu dengan celetukan
Ical. Aku hanya bisa menahannya.
Latihan
hari ini selesai. Kami pulang dengan mengendarai sepeda. Iring-iringan sebentar-sebentar
memenuhi jalan, kemudian kami menepi lagi ketika ada kendaraan yang mau lewat.
Kulihat
Ical keluar dari rombongan. Memacu sepedanya dengan cepat, menjauhi kami. Ical
memutar-mutar sepedanya, membuat gerakan melompat seperti akrobat. Teman-teman
sangat mengaguminya, ini lagi nilai tambah si Ical, pikirku.
Sebuah
sepeda motor melaju kencang dari arah depan. Ical tak sempat menghindar dugg
akhhhhh...sepeda motor itupun menabrak Ical. Dia terpental, pengemudi itu kabur
melarikan diri.
Situasi
panik, kami serempak menolong Ical.Aku sedih
melihat kondisinya. Rasa dongkol, kecewa dengan sikapnya beberapa hari ini
menghilang seketika.
”Rama,
Beno kalian pergi ke perumahan, panggil pak Ihsan, ayahnya Ical!” perintahku
cepat.
”Yang
lainnya kita bawa Ical ke tepi jalan, bereskan juga sepedanya!” seperti
panglima perang yang sedang mengatur prajuritnya. Ical menderita luka, kaki
kanannya cedera dan retak.
Aku
dan teman-teman sering menjenguknya, Ical
sangat terhibur. Hari ini kami juga janjian mau ke rumah sakit. Tapi,
tak seperti biasanya, teman-teman belum ada yang datang. Aku ragu, hanya
berdiri di pintu. Ingin rasanya aku mundur, tapi Ical sudah terlanjur
melihatku.
“Gimana
keadaanmu, Cal?” tanyaku ragu.
“Sudah
membaik, makasih, ya! sudah datang menjengukku.”
“Sama-sama,”
jawabku singkat.
Untung
teman-teman lainya segera datang. Suasana kaku secepatnya bisa teratasi oleh
banyolan Beno dan Dion.
***
Kemarin
Ical diperbolehkan pulang. Hari ini adalah babak penyisihan pertandingan. Dion
yang menggantikan Ical sebagai kapten. Dengan semangat yang tinggi, akhirnya
kami bisa masuk final. Ical selalu
menyaksikan pertandingan walaupun berada di kursi roda.
“Ravan,
semangat ya!” ucapnya sambil mengacungkan jempol.
”Pak
Lukman tidak salah mengajakmu bergabung,” lanjutnya.
Aku
hanya tersenyum lebar, tidak menyangka akan dapat pujian dari Ical.
“Aku gak suka kamu bergabung di team sekolah. Pak
Lukman tidak mengetesmu, tiba-tiba langsung latihan. Menjadi team inti lagi. Kamu
memang pandai,Van. Maafkan aku,” sesal Ical
Aku
mengangguk, mengiyakan.
”Ravan,
ayo masuk!” teriak pak Lukman, karena pertandingan akan segera dimulai.
“Semangat,
Van!” untuk kedua kalinya dia mengacungkan jempol.
Team
lawan sangatlah berat. Berkali-kali pak Lukman mengganti pemain. Semangat dan
tepuk tangan tak henti-hentinya diberikan oleh teman-teman.
Karena
kedudukan sama, akhirnya diadakan adu penalti. Teman-teman bersorak gembira,
tendangan terakhirku adalah kemenangan team kami.
”Hidup,
Ravan......” teriak teman-teman spontan.
Dengan bangga kami bisa
memberikan prestasi untuk sekolah, tetapi yang tidak kalah penting adalah
persahabatan. Akhirnya aku dan Ical bisa jadi teman yang baik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar