Jumat, 17 Juni 2016

Antara Aku dan Ical


                                                    Terbit di Majalah Bobo tahun 2015


Ical namanya. Selain pintar dia juga sangat pandai bermain sepak bola. Jadi tidak heran kalau Pak Lukman selalu menempatkannya sebagai kapten. Sangat berbeda dengan diriku. Badanku lebih kecil dari teman-teman sebayaku. Prestasiku juga biasa saja,bahkan aku pernah tidak naik kelas.
Usai pelajaran olahraga, Pak Lukman memanggilku. “Ravan, mulai besok kamu latihan, ya!”
“Latihan apa, Pak?” tanyaku semangat.
“Sepakbola. Jadwalnya bisa  kamu lihat di papan pengumuman dekat kantor guru!” ujar pak Lukman ramah.
“Koq, saya, Pak?” aku masih belum percaya dengan apa yang aku dengar.
“Kenapa ragu? Bapak pernah lihat kamu bermain bola bersama teman-temanmu. Ternyata kamu pintar juga, ya?” puji Pak Lukman sembari menepuk bahuku.
Dengan semangat empat lima aku berangkat latihan, sesuai jadwal yang telah ditentukan. Teman-teman yang lain sudah berkumpul di lapangan dekat sekolah, tak terkecuali dengan Ical. Sepatu dan kaos bola merk terkenal membuatnya tambah keren.
“Anak baru, ya?” tegur Ical sedikit keras.
“Ya, dong, Cal!” jawabku penuh percaya diri.
Sok akrab, kamu!” jawabnya ketus. Kemudian pergi meninggalkanku tanpa basa-basi.
Aku sangat kecewa dengan ucapannya tadi. Walaupun kita beda kelas, cuma dipisahkan satu sekatan tembok, tidak mungkin dia tidak mengenalku.
Tampaknya Ical kurang suka aku berada di dalam team sepak bola sekolah. Dengan teman-teman yang lain dia bisa akrab, bersenda gurau, tertawa riang. Denganku bertegur sapa saja dia enggan. Bahkan pernah dia mengempeskan sepedaku, kata Dion. Tapi Ical tak mau mengakuinya.
”Anak-anak, seminggu lagi pertandingan memperebutkan piala bupati , Bapak harap kalian latihan dengan serius!” arahan pak Lukman membuyarkan lamunanku.        
“Horeee...” teman-teman bersorak gembira. Aku sepertinya tidak senang mendengar berita itu. Semua itu karena sikap Ical.
“Ravan, kamu sakit?” tiba-tiba pak Lukman menyebut namaku.
“Ehh..ahh enggak, Pak,” jawabku gugup.
“Bapak kira kamu sakit, konsentrasi,ya!”
“Kucingnya yang sakit, Pak!” sindir Ical.
“Haha....” tanpa dikomando teman-teman menertawakanku. Aku sangat malu dengan celetukan Ical. Aku hanya bisa menahannya.
Latihan hari ini selesai. Kami pulang dengan mengendarai sepeda. Iring-iringan sebentar-sebentar memenuhi jalan, kemudian kami menepi lagi ketika ada kendaraan yang mau lewat.
Kulihat Ical keluar dari rombongan. Memacu sepedanya dengan cepat, menjauhi kami. Ical memutar-mutar sepedanya, membuat gerakan melompat seperti akrobat. Teman-teman sangat mengaguminya, ini lagi nilai tambah si Ical, pikirku.
Sebuah sepeda motor melaju kencang dari arah depan. Ical tak sempat menghindar dugg akhhhhh...sepeda motor itupun menabrak Ical. Dia terpental, pengemudi itu kabur melarikan diri.
Situasi panik, kami serempak  menolong Ical.Aku sedih melihat kondisinya. Rasa dongkol, kecewa dengan sikapnya beberapa hari ini menghilang seketika.
”Rama, Beno kalian pergi ke perumahan, panggil pak Ihsan, ayahnya Ical!” perintahku cepat.
”Yang lainnya kita bawa Ical ke tepi jalan, bereskan juga sepedanya!” seperti panglima perang yang sedang mengatur prajuritnya. Ical menderita luka, kaki kanannya cedera dan retak.
Aku dan teman-teman sering menjenguknya, Ical  sangat terhibur. Hari ini kami juga janjian mau ke rumah sakit. Tapi, tak seperti biasanya, teman-teman belum ada yang datang. Aku ragu, hanya berdiri di pintu. Ingin rasanya aku mundur, tapi Ical sudah terlanjur melihatku.
“Gimana keadaanmu, Cal?” tanyaku ragu.
“Sudah membaik, makasih, ya! sudah datang menjengukku.”
“Sama-sama,” jawabku singkat.
Untung teman-teman lainya segera datang. Suasana kaku secepatnya bisa teratasi oleh banyolan Beno dan Dion.
***
Kemarin Ical diperbolehkan pulang. Hari ini adalah babak penyisihan pertandingan. Dion yang menggantikan Ical sebagai kapten. Dengan semangat yang tinggi, akhirnya kami bisa masuk final. Ical  selalu menyaksikan pertandingan walaupun berada di kursi roda.
“Ravan, semangat ya!” ucapnya sambil mengacungkan jempol.
”Pak Lukman tidak salah mengajakmu bergabung,” lanjutnya.
Aku hanya tersenyum lebar, tidak menyangka akan dapat pujian dari Ical.
 “Aku gak suka kamu bergabung di team sekolah. Pak Lukman tidak mengetesmu, tiba-tiba langsung latihan. Menjadi team inti lagi. Kamu memang pandai,Van. Maafkan aku,” sesal Ical
Aku mengangguk, mengiyakan.
”Ravan, ayo masuk!” teriak pak Lukman, karena pertandingan akan segera dimulai.
“Semangat, Van!” untuk kedua kalinya dia mengacungkan jempol.
Team lawan sangatlah berat. Berkali-kali pak Lukman mengganti pemain. Semangat dan tepuk tangan tak henti-hentinya diberikan oleh teman-teman.
Karena kedudukan sama, akhirnya diadakan adu penalti. Teman-teman bersorak gembira, tendangan terakhirku adalah kemenangan team kami.
”Hidup, Ravan......” teriak teman-teman spontan.
Dengan bangga kami bisa memberikan prestasi untuk sekolah, tetapi yang tidak kalah penting adalah persahabatan. Akhirnya aku dan Ical bisa jadi teman yang baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bertualang Bersama Robot

Penulis  : Liza Erfiana Editor  : D. Kurniawan Ilustrator  : Alvin Adhi Cetakan Pertama  : Januari 2019 Penerbit  : Tiga Ananda H...