Senin, 27 Juni 2016

Cincin Pelezat Masakan



Majalah Bobo, tahun 2015

Paman Tom adalah seorang juru masak istana yang handal di Negeri Pelangi Timur. Karena umurnya sudah tua, Paman Tom bermaksud mengundurkan diri. Tapi dia bingung siapa yang bisa menggantikannya?
Sam adalah asisten setianya. Dari umur belasan tahun dia sudah ikut Paman Tom. Mulai dari tukang cuci piring, tukang bersih-bersih, menyajikan makanan, dan sekarang dia telah menjadi tangan kanan Paman Tom di dapur.
Tetapi khusus masakan raja dan keluarganya, Paman Tom meracik sendiri. Soalnya baginda raja sangat teliti dan sedikit cerewet.
“Sam, kamu tahukan saya sebentar lagi pensiun?” tanya Paman Tom ketika usai memasak. Sam pun mengangguk.
“Beberapa hari ini saya berpikir. Sepertinya kamu cocok menggantikanku, saya sudah bicarakan ini ke baginda ratu.”
Dahi Sam berkerut seperti gorden, dia tak menyangka Paman Tom akan mempromosikannya.
“Mulai besok saya akan mengajarimu memasak,” Paman Tom menyerahkan satu lembar daun lontar yang berisikan daftar menu.
“Wah!” Sam kaget, banyak menu yang tidak dia pahami. Selai apel penuh senyum, jus alpukat kejujuran, Sop delima rasa cinta dan masih banyak lagi. Ah, masakan apa ini? gumamnya sendiri.
Keesokan harinya Paman Tom memenuhi janjinya. “Kamu sudah baca bahan-bahan dan tata cara membuat masakan di daftar menu? sekarang praktekkan!”
Sam tersenyum. Karena gampang dia memilih Jus Alpukat kejujuran. Berapa menit kemudian tampak dia kebingungan, gula sarang semutnya habis. Bertanya kepada Paman Tom, rasanya malu. Timbul idenya, gula aren hijau kenapa tidak?
Bibir Paman Tom melipat, matanya memicing sepertinya dia memikirkan sesuatu. “ini jus alpukat kejujuran, Sam? Dia meletakkan cangkir yang terbuat dari batok kelapa itu.
Sam mengangguk, “bagaimana rasanya, paman?”
“Walaupun tampak segar dan nikmat, koq, aneh? Benar kamu telah melakukan sesuai petunjuk?” Paman Tom penasaran.
“Iya, Paman.”
“Diingat lagi, Sam?”
Sam kemudian berpikir sejenak, lalu menceritakan keadaan yang sebenarnya.
“Jujur dan bertanya itu penting, Sam!” ucap Paman Tom.    
Hari berikutnya dia pun kembali melakukan tugasnya. Selai apel penuh senyum, apa yang sulit pikirnya? Dia sering membuat itu untuk dimakan sendiri. Sam mengupas apel sambil beryanyi riang, brettt...pisau yang tajam mengenai telunjuk sebelah kiri. Uhhh...sakitnya, awww... aduh perih.  Sam menggerutu sana sini. Sampai akhirnya selai yang dihasilkannya sedikit gosong. Dia juga lupa memasukkan takaran gulanya.
Wajah Paman Tom kembali berkerut. “Masaklah sesuai petunjuk, Sam!”
Sam membaca dengan teliti satu persatu menu dan tata caranya. Senyumnya mengembang. “Baiklah Paman, sesuai petunjuk kan?”
“Satu lagi, Sam, paman punya sebuah cincin istimewa pelezat masakan. Jika kamu memakai cincin itu semua masakanmu pasti akan nikmat,” bisik Paman Tom.
“Aku mau paman,” jawab Sam kencang, penuh semangat.
“Paman akan berikan, jika kamu telah menguasai semua menu yang aku berikan.”
Begitulah Sam, hari demi hari belajar penuh semangat. Paman Tom selalu mengacungkan jempolnya melihat perkembangan Sam. Tak terasa waktu seminggu sudah berakhir.
 “Sekarang kamu berikan ini untuk Baginda Kedar! paman yakin sang prabu akan senang.”
Dengan sedikit gugup, Sam mengikuti perintah Paman Tom. Dia tak sabar menunggu reaksi sang raja. Berbagai pertanyaan muncul. Masakan apa ini? gak enak! kamu yang masak, ya? Sam sangat gelisah.
Beberapa menit berlalu. Paman Tom keluar dari ruang makan raja. Dia menghampiri Sam, mukanya ditekuk, matanya melotot tajam. Sam semakin tak karuan. Aku telah mengecewakan Paman Tom, bathinnya.
“Sam, sini! Paman Tom memanggilnya sedikit kencang.
Badan Sam gemetar melihat Paman Tom, pasti Baginda Kedar sudah memarahinya.
“Bukk... Paman Tom menepuk bahunya. Tolong kamu buatkan lagi masakan yang tadi. Sepertinya baginda sangat suka,” pinta Paman Tom dengan senyum khasnya.
“Paman, hampir saja jantungku lepas,” protes Sam.
“Haha...bercanda, Sam, kan, jadinya seru,” Paman Tom terpingkal-pingkal mengingat kejadian tadi.
“Eh, em, Paman, mana cincin pelezat makananannya?” Sam mengingatkan janji Paman Tom, karena dia merasa telah lulus ujian.
“Masih perlukah, Sam?”
“Iya, dong!” jawabnya tidak sabaran.
“Kamu ingat, apakah selama ini saya memakai cincin setiap memasak?
Sam diam, kemudian menggeleng.
“Itu juga bercanda Sam, supaya kamu lebih semangat. Buktinya tidak memakai apa-apa baginda sudah memuji masakanmu. Kuncinya adalah ikhlas, apapun yang kamu masak pasti enak.”
Sam merenungi ucapan paman Tom, dia sangat setuju dengan kata-kata itu. Akhirnya Sam bisa menjadi juru masak istana. “Terimakasih, Paman Tom,” bisiknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bertualang Bersama Robot

Penulis  : Liza Erfiana Editor  : D. Kurniawan Ilustrator  : Alvin Adhi Cetakan Pertama  : Januari 2019 Penerbit  : Tiga Ananda H...