Majalah Bobo, tahun 2015
Paman
Tom adalah seorang juru masak istana yang handal di Negeri Pelangi Timur.
Karena umurnya sudah tua, Paman Tom bermaksud mengundurkan diri. Tapi dia bingung
siapa yang bisa menggantikannya?
Sam
adalah asisten setianya. Dari umur belasan tahun dia sudah ikut Paman Tom.
Mulai dari tukang cuci piring, tukang bersih-bersih, menyajikan makanan, dan
sekarang dia telah menjadi tangan kanan Paman Tom di dapur.
Tetapi
khusus masakan raja dan keluarganya, Paman Tom meracik sendiri. Soalnya baginda
raja sangat teliti dan sedikit cerewet.
“Sam,
kamu tahukan saya sebentar lagi pensiun?” tanya Paman Tom ketika usai memasak. Sam
pun mengangguk.
“Beberapa
hari ini saya berpikir. Sepertinya kamu cocok menggantikanku, saya sudah
bicarakan ini ke baginda ratu.”
Dahi
Sam berkerut seperti gorden, dia tak menyangka Paman Tom akan mempromosikannya.
“Mulai
besok saya akan mengajarimu memasak,” Paman Tom menyerahkan satu lembar daun
lontar yang berisikan daftar menu.
“Wah!”
Sam kaget, banyak menu yang tidak dia pahami. Selai apel penuh senyum, jus alpukat
kejujuran, Sop delima rasa cinta dan masih banyak lagi. Ah, masakan apa ini?
gumamnya sendiri.
Keesokan
harinya Paman Tom memenuhi janjinya. “Kamu sudah baca bahan-bahan dan tata cara
membuat masakan di daftar menu? sekarang praktekkan!”
Sam
tersenyum. Karena gampang dia memilih Jus Alpukat kejujuran. Berapa menit
kemudian tampak dia kebingungan, gula sarang semutnya habis. Bertanya kepada Paman
Tom, rasanya malu. Timbul idenya, gula aren hijau kenapa tidak?
Bibir
Paman Tom melipat, matanya memicing sepertinya dia memikirkan sesuatu. “ini jus
alpukat kejujuran, Sam? Dia meletakkan cangkir yang terbuat dari batok kelapa
itu.
Sam
mengangguk, “bagaimana rasanya, paman?”
“Walaupun
tampak segar dan nikmat, koq, aneh? Benar kamu telah melakukan sesuai
petunjuk?” Paman Tom penasaran.
“Iya,
Paman.”
“Diingat
lagi, Sam?”
Sam
kemudian berpikir sejenak, lalu menceritakan keadaan yang sebenarnya.
“Jujur
dan bertanya itu penting, Sam!” ucap Paman Tom.
Hari
berikutnya dia pun kembali melakukan tugasnya. Selai apel penuh senyum, apa
yang sulit pikirnya? Dia sering membuat itu untuk dimakan sendiri. Sam mengupas
apel sambil beryanyi riang, brettt...pisau yang tajam mengenai telunjuk sebelah
kiri. Uhhh...sakitnya, awww... aduh perih. Sam menggerutu sana sini. Sampai akhirnya
selai yang dihasilkannya sedikit gosong. Dia juga lupa memasukkan takaran
gulanya.
Wajah
Paman Tom kembali berkerut. “Masaklah sesuai petunjuk, Sam!”
Sam membaca dengan
teliti satu persatu menu dan tata caranya. Senyumnya mengembang. “Baiklah
Paman, sesuai petunjuk kan?”
“Satu
lagi, Sam, paman punya sebuah cincin istimewa pelezat masakan. Jika kamu memakai
cincin itu semua masakanmu pasti akan nikmat,” bisik Paman Tom.
“Aku
mau paman,” jawab Sam kencang, penuh semangat.
“Paman
akan berikan, jika kamu telah menguasai semua menu yang aku berikan.”
Begitulah Sam,
hari demi hari belajar penuh semangat. Paman Tom selalu mengacungkan jempolnya
melihat perkembangan Sam. Tak terasa waktu seminggu sudah berakhir.
“Sekarang kamu berikan ini untuk Baginda
Kedar! paman yakin sang prabu akan senang.”
Dengan
sedikit gugup, Sam mengikuti perintah Paman Tom. Dia tak sabar menunggu reaksi
sang raja. Berbagai pertanyaan muncul. Masakan apa ini? gak enak! kamu yang
masak, ya? Sam sangat gelisah.
Beberapa
menit berlalu. Paman Tom keluar dari ruang makan raja. Dia menghampiri Sam,
mukanya ditekuk, matanya melotot tajam. Sam semakin tak karuan. Aku telah
mengecewakan Paman Tom, bathinnya.
“Sam,
sini! Paman Tom memanggilnya sedikit kencang.
Badan
Sam gemetar melihat Paman Tom, pasti Baginda Kedar sudah memarahinya.
“Bukk...
Paman Tom menepuk bahunya. Tolong kamu buatkan lagi masakan yang tadi.
Sepertinya baginda sangat suka,” pinta Paman Tom dengan senyum khasnya.
“Paman,
hampir saja jantungku lepas,” protes Sam.
“Haha...bercanda,
Sam, kan, jadinya seru,” Paman Tom terpingkal-pingkal mengingat kejadian tadi.
“Eh,
em, Paman, mana cincin pelezat makananannya?” Sam mengingatkan janji Paman Tom,
karena dia merasa telah lulus ujian.
“Masih
perlukah, Sam?”
“Iya,
dong!” jawabnya tidak sabaran.
“Kamu
ingat, apakah selama ini saya memakai cincin setiap memasak?
Sam
diam, kemudian menggeleng.
“Itu
juga bercanda Sam, supaya kamu lebih semangat. Buktinya tidak memakai apa-apa
baginda sudah memuji masakanmu. Kuncinya adalah ikhlas, apapun yang kamu masak
pasti enak.”
Sam
merenungi ucapan paman Tom, dia sangat setuju dengan kata-kata itu. Akhirnya
Sam bisa menjadi juru masak istana. “Terimakasih, Paman Tom,” bisiknya.
