Jumat, 20 Mei 2016

Jangan Kau Ambil Dia



“Ini  kali ketiga aku melihat Andito bersama perempuan itu. Di  klinik kecantikan langganan kita,” ujar  bu Anggi si biang gosip di kawasan perumahanku. Selentingan kabar yang membuat kuping  panas dan hati meradang pun silih berganti. Tapi, aku coba untuk sabar dan tak terbawa emosi sebelum tahu kebenarannya.
            Aku sangat mempercayai Mas  Dito. Tak mungkin dia tega melakukan itu.Yang kulihat, kurasakan selama ini dia sangat lembut dan perhatian kepada kami. Satu lagi dia sangat rajin beribadah itu yang membuatku bertambah yakin Mas Dito setia.
            Badanku  sangat letih setelah seharian berkutat dengan dapur membuat  50 loyang kue bolu pesanan Tante Rika.Tidurku tak lelap dan sedikit gelisah. Jarum jam menunjukan pukul 12.10 am. Akupun menoleh ke samping, mencari Mas Dito.
”Kemana Mas Dito?” gumamku.
”Bukankah tadi sudah tidur duluan? emm... atau mungkin di ruang keluarga sedang nonton tivi,” tebakku. Akupun beranjak keluar kamar mencarinya.
Kucari di ruang keluarga tak ada, akupun berjalan ke arah dapur. Oh ternyata di sana. Kulihat Mas Dito buru-buru menutup teleponnya begitu aku mendekat.
 “Udah dulu ya Pak, sampai besok,” ucapnya menyudahi percakapan. Tapi tak lama kemudian telepone berdering tapi mas Dito tak menjawab malahan mematikannya.
“Dari siapa mas?” tanyaku.
“Pak Dimar. Biasa urusan kantor,” jawabnya datar tanpa melihat ke arahku.
“Lah, memang urusannya penting banget inikan udah malam?” tanyaku menyelidik.
“Gak usah diperpanjang. Ayo tidur lagi saja!” ajaknya sambil berjalan meninggalkan aku yang dilanda penasaran. Bagaimana tidak,  teleponan  tengah malam dan ketika melihatku tiba-tiba telepon ditutup. Ada nada panggilan lagi, handphone malah dimatikan.
Mengingat kejadian itu tiba –tiba ada perasaan aneh menyeruak di kalbuku sampai pagi aku tak bisa tertidur lelap. Sebelum azan Subuh berbunyi keputuskanku untuk melakukan sholat malam untuk minta ketenangan diri.
Walaupun yang kulakukan salah tapi  aku tak kuasa menahan diri. Dengan gerakan yang cepat kuambil handphone Mas Dito. Di kamar mandi kucoba menyalakannya. Astaga dikotak panggilan masuk tadi malam tak ada nama Pak Dimar.  Archita, siapa dia?
 Belum lagi pertanyaanku terjawab tiba-tiba ada pesan masuk dari yang namanya Archita.
Mas koq dimatikan sich!, aku kan masih kangen. Ya udah deh besok juga bisa ketemu lagi, miss u. Karena handphonenya dimatikan jadi pesan itu baru masuk sekarang.
Badanku gemetar, tenggorokanku tercekat, dadaku sesak dan limbung. Dengan terhuyung aku keluar dari kamar mandi. Air mataku meleleh deras. Ya Tuhan aku dikhianati.
Paginya kusiapkan sarapan seperti biasa. Mencoba tenang dan bersahabat dengan keadaan.
”Pagi Bunda,” sapa Mas Dito. Akupun hanya bisa menyeringai terpaksa. Sangat pandai dia bersandiwara. Aku tunggu dia selesai sarapan pagi. Aku masih bersikap sopan dan menahan diri. Tak enak menanyakan perihal semalam di tempat makan.
“Aku mau ngomong serius,” pintaku ketika Mas Dito masuk lagi ke kamar.
Dia menoleh ke arahku. “ada apa sih Bun koq kaku banget?”
“Siapa yang telepon tadi malam?” tanyaku dengan suara gemetaran.
“Pak Dimar!”
Mas Dito masih saja mau menutupi kebohongannya dengan mengatasnamakan pak Dimar, atasannya.
 “Siapa Archita?” tanyaku sambil menangis
“Eh...Oh, dddia teman aku Bun!” jawabnya gugup.
“Oh, teman? Bagus sekali seorang teman kirim pesan kangen dan rindu. engah malam sama suami orang lagi. Aku tak menyangka Mas, kamu tega membohongi, mengkhianati aku dan anak-anak. Kamu mau kawin lagi?” ujarku penuh emosi.
“Aku gak ada hubungan apa-apa, benar  Bun,” jawabnya masih membela diri.
Kuambil handphonenya yang aku simpan di lemari pakaian. “Lihat panggilan masuk semalam, lihat pesan masuk,” pintaku geram. Mas Dito tak bisa berkutik lagi, hanya bisa terdiam kaku.Tak kuasa menatap kearahku yang lagi sesenggukan menangis.
”Aku mau pulang saja Mas, sudah tak ada gunanya aku disini”.
Dengan sekuat tenaga dia membujukku untuk tidak pulang ke rumah orangtuaku, akhirnya aku luluh juga, tapi lebih karena  melihat 2 buah hatiku yang menarik bajuku sambil menangis.”Bunda tak boleh pergi, abang sama adek dengan siapa?” pinta Kisan dengan berurai air mata. Aku terharu dan menghentikan langkah. Dengan buliran airmata yang terus mengalir, kupeluk dua malaikat kecilku dengan erat. Aku harus menjaga mereka.
“Masih ingin kamu menyakiti kami Mas?” tanyaku .
Aku lihat dia menghapus kontak yang bernama Archita kemudian mematahkan kartu itu. “Aku berjanji demi kamu dan anak-anak tak akan berhubungan dengan dia lagi. Demi Tuhan Bun, aku tak akan mengulanginya lagi,” diapun memeluk kami dan ikut menangis.
Sepertinya aku ingin mati saja dengan pengkhianatan ini tapi melihat anak-anak aku harus kuat dan bertahan. Jika aku lemah perempuan itu akan menang. Aku mohon jangan biarkan dia mengambil suamiku .Kisan dan Nita masih membutuhkan figure ayah. Aku tak mau keluargaku berantakan.Tuntun langkah suamiku ke jalanMu Rabb dan berikan ketegaran padaku dalam menghadapi masalah ini. Aku serahkan semuanya padaMu ,biarlah waktu yang akan memulihkan dan mengobati lukaku.

Graha Siena, 20 Mei 2016

Minggu, 15 Mei 2016

Kamu Bukanlah Kamu



Resah aku tatap siang ini
Kamu,ya kamu dalam bimbang hati
Tak perlu aku berdebat dengan mentari
Tak perlu juga berdebat dengan malam sunyi
Di sini,ya aku rasakan di sini
Rasamu bukan yang dulu
Kamu bukanlah kamu

Hari ini aku tarik jiwa, rasa
Percuma hanya akan terbakar
Kemudian hilang di bawa angin hampa
Diri hanyalah insan yang coba menyabar

Tak patut aku dapatkan kehambaran
Pergilah kalau itu inginmu
Aku Tak butuh sandaran
Tak guna juga membenci
Hanya akan mengkerdilkan diri
Dan aku kau tirani di sini
Terikat dengan kawat duri.

Graha Siena, 15 Mei 2016

Menunggu Janji



Kekasihku...
Lama nian aku di sini
Termangu di ujung sepi
menunggu janji yang belum pasti

Kekasihku...
Aku tak kuat menanggung sengsara
Aku tak kuat bersedih lara
Aku tak kuat menahan cedera
Aku tak kuat dengan nestapa

Kekasihku...
Dua belas purnama telah berlalu
Tak  jelas apa yang ditunggu
Masih saja aku mengharapmu
Mengais remahan sisa janjimu

Kekasihku....
Aku berduka cita
Mengenang indahnya cinta
Tak kan bisa aku berkata-kata
Hati bicara inginmu saja

Kekasihku...
Kutunggu lagi dua belas purnama
Mengais  remahan janjimu saja
Atau aku akan binasa.

Graha Siena, 15 Mei 2016

Sabtu, 14 Mei 2016

Heyyy...Kamu, ya, Kamu



Jeritanku payah
Hanya melontar kata kata serapah
Tak cukup juah membuatmu reda
Dan akupun nelangsa

Tak bisaku berdebat dengan bahasamu
Yang sangat tinggi dan tak membumi

Kau umbar janji indah segala
Kau ucap sumpah setia
Kau tiupkan sangkakala cinta
Kau tebar wangi swarga
Sejenak ku terbuai manja
Oleh kesyahduan tutur kata
Hah..terlenaku terburai sudah
Akupun kalap tanpa daya

Hey...
Hanya itu yang bisa kukata
Aku telah kehabisan kosakata
Tapi kau tetap meraup angkara
Lebih baik aku berdiam saja
Dan membiarkan kau tetap menggila

Tangerang, 15 Mei 2016


Kamis, 12 Mei 2016

Janji Beni di Hari Ibu


Rubrik Soca, Maret 2015

Di lapangan yang tidak begitu luas, tampak beberapa anak sedang bermain bola. ”Hore...”empat orang anak berteriak sambil mengacungkan tangannya ke atas. Rupanya salah satu dari mereka berhasil memasukkan bola ke arah gawang.”Hidup Beni!”teriak mereka lagi. Beni yang dipuji pun tersenyum bangga, sambil membusungkan dadanya.

Tak begitu lama azan Magrib berkumandang, barulah mereka bubar. Satu persatu anak-anak tersebut meninggalkan lapangan, tak terkecuali dengan Beni.Walaupun hatinya senang karena berkali-kali memasukkan bola, entah mengapa perasaannya sangat berbeda sore ini.

Beni mengayuh sepeda lipatnya dengan cepat, ingin segera sampai ke rumah. Hampir saja dia terjatuh karena menabrak batu sebesar telor ayam. Sesekali dia mengelap keringatnya yang membasahi dahi. Dari kejauhan Beni melihat lampu di rumahnya belum menyala.

“Kak Rani..Kakak, Kak...” Ketika tiba di depan pintu, Beni langsung mengetok pintu dan memanggil kakaknya. Berulang kali dia melakukannya, tapi tetap tak ada jawaban. ”Kemana, sih? enggak tahu apa saya capek? mana lapar lagi,” Beni menggerutu kesal. Biasanya jam segini yang ada di rumah adalah Rani. Ibunya sebagai orangtua tunggal, masih sibuk bekerja.

Ibunya Beni berjualan nasi uduk di taman jajan dalam komplek perumahan elit. Setiap hari  berangkat dari pukul tiga sore sampai pukul sembilan malam. Semenjak ayahnya meninggal 2 tahun yang lalu, ibunya pontang-panting menghidupi kedua anaknya. Pernah juga bekerja sebagai buruh cuci, kerja di rumah makan padang, ataupun jadi pengupas bawang di pasar. Akhirnya Pak Ramli adik kandungnya Bu Minah memberi modal sehingga bisa membuka warung nasi.

“Kak..Kak..buka pintunya!” Beni mulai berteriak.

“Ben, itu kamu?” tanya Mang Dirja tetangga depan rumahnya. Beni pun beranjak menghampiri.

“Iya, Mang!”

“Ibumu sekarang di rumah sakit. Tadi kecelakaan,“ ucap Mang Dirja setelah memasuki pagar rumah Beni.

“Hah!?” Beni melongok tak percaya, badannya gemetar. Rasa kesalnya mendadak hilang berganti rasa sedih yang tak tertahan.

“Parah, Mang?”

“Rani sudah di sana, kamu tenang dulu, ya! Sekarang kamu mandi, makan di tempat mamang setelah itu mamang antar kamu ke rumah sakit,” ajak Mang Dirja tetangganya yang baik hati. Beni pun menuruti perintah mang Dirja.

Dia mandi terburu-buru. Sebenarnya Beni menolak makan, tak ada selera sama sekali tetapi Bik Na sudah menyiapkannya.

Beni teringat kejadian beberapa jam yang lalu, Beni mendesak ibunya agar segera membelikan sepatu bola untuknya. Beni akan mogok sekolah bila permintaanya tidak segera dituruti. Dulu pernah dia melakukan hal itu, ketika dia ingin dibelikan sepeda lipat seperti punya Dion. Dengan sedikit ancaman, akhirnya Bu Minah menyanggupinya. Sekarang dia ingin mencobanya lagi.

 Sebagai anak laki-laki yang telah berumur 10 tahun tak sepantasnya dia membuat ibunya sedih. Jangankan membantu pekerjaan ibunya, pulang sekolah Beni selalu bermain. Seringkali dia menghabiskan waktunya di playstation. Pulang ke rumah sudah capek dan pastinya malas belajar. Sering juga dia bolos sekolah akhirnya satu semester ini nilai raportnya jelek. Bu Minah bukannya tak menasehati, tetapi Beni yang sangat keras kepala. 

“Ayo, dimakan, Ben!” bujuk mang Dirja.

“I..iya Mang,”jawabnya gugup. Buru-buru dia menyuap nasinya agar cepat berangkat ke rumah sakit. Beni dihantui rasa bersalah. Bu Minah terlalu banyak memikirkannya.

 “Kecelakaan terjadi di ujung jalan dekat siskamling. Ketika ibumu sedang mendorong gerobaknya untuk menyeberang jalan. Satu sepeda motor melaju kencang, pengendaranya kabur,” papar mang Dirja.
Beni pun tersedak mendengar penjelasan Mang Dirja.

Usai makan, keduanya bergegas ke rumah sakit. Beni sudah tak sabar ingin berada di sana.
Dengan tergesa-gesa keduanya mencari ruang mawar kelas 3. Rani duduk membelakangi pintu. “Ibu..” Beni segera menghambur. Dilihatnya perempuan paruh  bayah sedang terbaring lemah. Kaki dan tangan kanannya diperban. Pipi sebelah kanan membiru. infuspun terpasang di tangannya.

Melihat Beni datang, Bu Minah tersenyum lemah. Beni menangis sejadi-jadinya. Apalagi jika teringat kejadian tadi siang.

“Sudah Ben, Ibu sudah agak baikan!” Beni memegangi tangan kiri Bu Minah sangat erat.

“Sudah, anak laki-laki tak boleh cengeng!” Rani memberikan sapu tangan buat adiknya.

“Iya, Ben. Kamu berdoa saja biar ibumu lekas sembuh,”saran Mang Dirja.

***
            Ini adalah hari kelima Bu Minah dirawat. Adalah kebahagian yang tak terhingga Bagi Beni, tepat di hari ibu tanggal 22 Desember, ibunya sudah diperbolehkan pulang. Beni tak lupa memberikan kado yang sangat special buat ibunya. Bukan kado yang berupa barang tapi janji Beni di dalam hati akan menjadi anak yang lebih baik lagi. Menjadi anak yang dibanggakan oleh ibunya dan tak akan membuat ibunya bersedih lagi.

”Selamat hari Ibu,” ucapnya malu-malu sambil mencium punggung tangan Bu Minah

Bertualang Bersama Robot

Penulis  : Liza Erfiana Editor  : D. Kurniawan Ilustrator  : Alvin Adhi Cetakan Pertama  : Januari 2019 Penerbit  : Tiga Ananda H...