Kamis, 12 Mei 2016

Janji Beni di Hari Ibu


Rubrik Soca, Maret 2015

Di lapangan yang tidak begitu luas, tampak beberapa anak sedang bermain bola. ”Hore...”empat orang anak berteriak sambil mengacungkan tangannya ke atas. Rupanya salah satu dari mereka berhasil memasukkan bola ke arah gawang.”Hidup Beni!”teriak mereka lagi. Beni yang dipuji pun tersenyum bangga, sambil membusungkan dadanya.

Tak begitu lama azan Magrib berkumandang, barulah mereka bubar. Satu persatu anak-anak tersebut meninggalkan lapangan, tak terkecuali dengan Beni.Walaupun hatinya senang karena berkali-kali memasukkan bola, entah mengapa perasaannya sangat berbeda sore ini.

Beni mengayuh sepeda lipatnya dengan cepat, ingin segera sampai ke rumah. Hampir saja dia terjatuh karena menabrak batu sebesar telor ayam. Sesekali dia mengelap keringatnya yang membasahi dahi. Dari kejauhan Beni melihat lampu di rumahnya belum menyala.

“Kak Rani..Kakak, Kak...” Ketika tiba di depan pintu, Beni langsung mengetok pintu dan memanggil kakaknya. Berulang kali dia melakukannya, tapi tetap tak ada jawaban. ”Kemana, sih? enggak tahu apa saya capek? mana lapar lagi,” Beni menggerutu kesal. Biasanya jam segini yang ada di rumah adalah Rani. Ibunya sebagai orangtua tunggal, masih sibuk bekerja.

Ibunya Beni berjualan nasi uduk di taman jajan dalam komplek perumahan elit. Setiap hari  berangkat dari pukul tiga sore sampai pukul sembilan malam. Semenjak ayahnya meninggal 2 tahun yang lalu, ibunya pontang-panting menghidupi kedua anaknya. Pernah juga bekerja sebagai buruh cuci, kerja di rumah makan padang, ataupun jadi pengupas bawang di pasar. Akhirnya Pak Ramli adik kandungnya Bu Minah memberi modal sehingga bisa membuka warung nasi.

“Kak..Kak..buka pintunya!” Beni mulai berteriak.

“Ben, itu kamu?” tanya Mang Dirja tetangga depan rumahnya. Beni pun beranjak menghampiri.

“Iya, Mang!”

“Ibumu sekarang di rumah sakit. Tadi kecelakaan,“ ucap Mang Dirja setelah memasuki pagar rumah Beni.

“Hah!?” Beni melongok tak percaya, badannya gemetar. Rasa kesalnya mendadak hilang berganti rasa sedih yang tak tertahan.

“Parah, Mang?”

“Rani sudah di sana, kamu tenang dulu, ya! Sekarang kamu mandi, makan di tempat mamang setelah itu mamang antar kamu ke rumah sakit,” ajak Mang Dirja tetangganya yang baik hati. Beni pun menuruti perintah mang Dirja.

Dia mandi terburu-buru. Sebenarnya Beni menolak makan, tak ada selera sama sekali tetapi Bik Na sudah menyiapkannya.

Beni teringat kejadian beberapa jam yang lalu, Beni mendesak ibunya agar segera membelikan sepatu bola untuknya. Beni akan mogok sekolah bila permintaanya tidak segera dituruti. Dulu pernah dia melakukan hal itu, ketika dia ingin dibelikan sepeda lipat seperti punya Dion. Dengan sedikit ancaman, akhirnya Bu Minah menyanggupinya. Sekarang dia ingin mencobanya lagi.

 Sebagai anak laki-laki yang telah berumur 10 tahun tak sepantasnya dia membuat ibunya sedih. Jangankan membantu pekerjaan ibunya, pulang sekolah Beni selalu bermain. Seringkali dia menghabiskan waktunya di playstation. Pulang ke rumah sudah capek dan pastinya malas belajar. Sering juga dia bolos sekolah akhirnya satu semester ini nilai raportnya jelek. Bu Minah bukannya tak menasehati, tetapi Beni yang sangat keras kepala. 

“Ayo, dimakan, Ben!” bujuk mang Dirja.

“I..iya Mang,”jawabnya gugup. Buru-buru dia menyuap nasinya agar cepat berangkat ke rumah sakit. Beni dihantui rasa bersalah. Bu Minah terlalu banyak memikirkannya.

 “Kecelakaan terjadi di ujung jalan dekat siskamling. Ketika ibumu sedang mendorong gerobaknya untuk menyeberang jalan. Satu sepeda motor melaju kencang, pengendaranya kabur,” papar mang Dirja.
Beni pun tersedak mendengar penjelasan Mang Dirja.

Usai makan, keduanya bergegas ke rumah sakit. Beni sudah tak sabar ingin berada di sana.
Dengan tergesa-gesa keduanya mencari ruang mawar kelas 3. Rani duduk membelakangi pintu. “Ibu..” Beni segera menghambur. Dilihatnya perempuan paruh  bayah sedang terbaring lemah. Kaki dan tangan kanannya diperban. Pipi sebelah kanan membiru. infuspun terpasang di tangannya.

Melihat Beni datang, Bu Minah tersenyum lemah. Beni menangis sejadi-jadinya. Apalagi jika teringat kejadian tadi siang.

“Sudah Ben, Ibu sudah agak baikan!” Beni memegangi tangan kiri Bu Minah sangat erat.

“Sudah, anak laki-laki tak boleh cengeng!” Rani memberikan sapu tangan buat adiknya.

“Iya, Ben. Kamu berdoa saja biar ibumu lekas sembuh,”saran Mang Dirja.

***
            Ini adalah hari kelima Bu Minah dirawat. Adalah kebahagian yang tak terhingga Bagi Beni, tepat di hari ibu tanggal 22 Desember, ibunya sudah diperbolehkan pulang. Beni tak lupa memberikan kado yang sangat special buat ibunya. Bukan kado yang berupa barang tapi janji Beni di dalam hati akan menjadi anak yang lebih baik lagi. Menjadi anak yang dibanggakan oleh ibunya dan tak akan membuat ibunya bersedih lagi.

”Selamat hari Ibu,” ucapnya malu-malu sambil mencium punggung tangan Bu Minah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bertualang Bersama Robot

Penulis  : Liza Erfiana Editor  : D. Kurniawan Ilustrator  : Alvin Adhi Cetakan Pertama  : Januari 2019 Penerbit  : Tiga Ananda H...