Rubrik Soca, Maret 2015
Di lapangan yang tidak begitu luas, tampak
beberapa anak sedang bermain bola. ”Hore...”empat orang anak berteriak sambil
mengacungkan tangannya ke atas. Rupanya salah satu dari mereka berhasil memasukkan
bola ke arah gawang.”Hidup Beni!”teriak mereka lagi. Beni yang dipuji pun
tersenyum bangga, sambil membusungkan dadanya.
Tak begitu lama azan Magrib
berkumandang, barulah mereka bubar. Satu persatu anak-anak tersebut
meninggalkan lapangan, tak terkecuali dengan Beni.Walaupun hatinya senang karena
berkali-kali memasukkan bola, entah mengapa perasaannya sangat berbeda sore
ini.
Beni mengayuh sepeda lipatnya dengan
cepat, ingin segera sampai ke rumah. Hampir saja dia terjatuh karena menabrak
batu sebesar telor ayam. Sesekali dia mengelap keringatnya yang membasahi dahi.
Dari kejauhan Beni melihat lampu di rumahnya belum menyala.
“Kak Rani..Kakak, Kak...” Ketika tiba di
depan pintu, Beni langsung mengetok pintu dan memanggil kakaknya. Berulang kali
dia melakukannya, tapi tetap tak ada jawaban. ”Kemana, sih? enggak tahu apa
saya capek? mana lapar lagi,” Beni menggerutu kesal. Biasanya jam segini yang ada
di rumah adalah Rani. Ibunya sebagai orangtua tunggal, masih sibuk bekerja.
Ibunya Beni berjualan nasi uduk di taman
jajan dalam komplek perumahan elit. Setiap hari berangkat dari pukul tiga sore sampai pukul
sembilan malam. Semenjak ayahnya meninggal 2 tahun yang lalu, ibunya
pontang-panting menghidupi kedua anaknya. Pernah juga bekerja sebagai buruh
cuci, kerja di rumah makan padang, ataupun jadi pengupas bawang di pasar. Akhirnya
Pak Ramli adik kandungnya Bu Minah memberi modal sehingga bisa membuka warung
nasi.
“Kak..Kak..buka pintunya!” Beni mulai
berteriak.
“Ben, itu kamu?” tanya Mang Dirja
tetangga depan rumahnya. Beni pun beranjak menghampiri.
“Iya, Mang!”
“Ibumu sekarang di rumah sakit. Tadi
kecelakaan,“ ucap Mang Dirja setelah memasuki pagar rumah Beni.
“Hah!?” Beni melongok tak percaya, badannya
gemetar. Rasa kesalnya mendadak hilang berganti rasa sedih yang tak tertahan.
“Parah, Mang?”
“Rani sudah di sana, kamu tenang dulu, ya!
Sekarang kamu mandi, makan di tempat mamang setelah itu mamang antar kamu ke
rumah sakit,” ajak Mang Dirja tetangganya yang baik hati. Beni pun menuruti perintah
mang Dirja.
Dia mandi terburu-buru. Sebenarnya Beni
menolak makan, tak ada selera sama sekali tetapi Bik Na sudah menyiapkannya.
Beni teringat kejadian beberapa jam yang
lalu, Beni mendesak ibunya agar segera membelikan sepatu bola untuknya. Beni
akan mogok sekolah bila permintaanya tidak segera dituruti. Dulu pernah dia
melakukan hal itu, ketika dia ingin dibelikan sepeda lipat seperti punya Dion. Dengan
sedikit ancaman, akhirnya Bu Minah menyanggupinya. Sekarang dia ingin
mencobanya lagi.
Sebagai
anak laki-laki yang telah berumur 10 tahun tak sepantasnya dia membuat ibunya
sedih. Jangankan membantu pekerjaan ibunya, pulang sekolah Beni selalu bermain.
Seringkali dia menghabiskan waktunya di playstation. Pulang ke rumah sudah
capek dan pastinya malas belajar. Sering juga dia bolos sekolah akhirnya satu
semester ini nilai raportnya jelek. Bu Minah bukannya tak menasehati, tetapi
Beni yang sangat keras kepala.
“Ayo, dimakan, Ben!” bujuk mang Dirja.
“I..iya Mang,”jawabnya gugup. Buru-buru
dia menyuap nasinya agar cepat berangkat ke rumah sakit. Beni dihantui rasa
bersalah. Bu Minah terlalu banyak memikirkannya.
“Kecelakaan
terjadi di ujung jalan dekat siskamling. Ketika ibumu sedang mendorong gerobaknya
untuk menyeberang jalan. Satu sepeda motor melaju kencang, pengendaranya
kabur,” papar mang Dirja.
Beni pun tersedak mendengar penjelasan Mang
Dirja.
Usai makan, keduanya bergegas ke rumah
sakit. Beni sudah tak sabar ingin berada di sana.
Dengan tergesa-gesa keduanya mencari ruang
mawar kelas 3. Rani duduk membelakangi pintu. “Ibu..” Beni segera menghambur. Dilihatnya
perempuan paruh bayah sedang terbaring
lemah. Kaki dan tangan kanannya diperban. Pipi sebelah kanan membiru. infuspun
terpasang di tangannya.
Melihat Beni datang, Bu Minah tersenyum
lemah. Beni menangis sejadi-jadinya. Apalagi jika teringat kejadian tadi siang.
“Sudah Ben, Ibu sudah agak baikan!” Beni
memegangi tangan kiri Bu Minah sangat erat.
“Sudah, anak laki-laki tak boleh
cengeng!” Rani memberikan sapu tangan buat adiknya.
“Iya, Ben. Kamu berdoa saja biar ibumu
lekas sembuh,”saran Mang Dirja.
***
Ini adalah hari kelima Bu Minah
dirawat. Adalah kebahagian yang tak terhingga Bagi Beni, tepat di hari ibu
tanggal 22 Desember, ibunya sudah diperbolehkan pulang. Beni tak lupa
memberikan kado yang sangat special buat ibunya. Bukan kado yang berupa barang tapi
janji Beni di dalam hati akan menjadi anak yang lebih baik lagi. Menjadi anak
yang dibanggakan oleh ibunya dan tak akan membuat ibunya bersedih lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar