Jumat, 16 September 2016

Pikiran Basi



Sendiri, di sini kunikmati sunyi
Yang terasa mengekangku kini
Hati bergelora, nyala lalu membias
Mengingat, kenangan kita yang masih membekas.

Jiwaku meluruh
Aku tidak tegar
Dan aku lelah
Aku tidak bisa berkoar
Hanya bisa berfantasi basi

Andai aku bisa terbang
Aku ingin pergi menuju bintang
Andai aku kencang berlari
Pastinya kuberhambur menghampiri tahtamu

Di sini, aku masih bersama sunyi
Menghiasi pikiran-pikiran basi

 Tangerang, 19 September 2016

Minggu, 11 September 2016

Mengapa Anda Menulis

Hemmm...hampir setiap hari kita menulis. Menulis apa saja, tentunya? Tidak menoton harus menulis di buku yang menghabiskan berlembar-lembar kertas. Atau menulis di buku diary, yang sudah itu kita kunci rapat dengan gembok yang besarnya melebihi buku diary, kemudian dililit pakai rantai yang sangat kuat# lebay....
Menulislah apa yang kamu tulis. Sekalipun menulis catatan belanja, bon-bon, atau juga menulis nomor telepon pembeli, karena kita penjual pulsa. 

Nah, yang mau dibahas di sini, bukan menulis karena hal-hal tersebut di atas. Menulis dalam artian kita menghasilkan tulisan, kemudian layak dan bermanfaat untuk orang banyak. Macam-macam alasan orang orang menulis.

Menulis karena menyalurkan hobi
Si A hobi menulis, apa saja yang dia alami akan ditulisnya. Dimarahin pak guru, karena mencontek. Kena omel istri, karena telat pulang kerja. Dimarahin suami, karena tidak becus mengurus anak. Media menulisnya, adalah buku diary, catatan kecil, bahkan di media sosial.  Hehhee...tangannya akan merasa gatal, kalau tidak menulis. It, ok. one day, dari menulis hobi kalau dikumpulkan kemudian di edit yang rapi akan menjadi tulisan yang ciamik.

Menulis karena niatnya berbagi ilmu dan pengalaman hidup.
Menulis yang niatnya murni karena ingin berbagi kepada pembaca. Menulis tidak mengharapkan imbalan apapun. Tidak ada menyuruh atau memaksa. Dia dengan sukarela membaginya, bisa saja tulisan di media sosial seperti facebook atau blog. Menjadikan tulisannya sebagai ladang amal.
 

Menulis karena mencari nafkah.
Artinya kegiatan tulis menulis yang dia lakukan adalah pekerjaan sehari-harinya. Layaknya orang bekerja, yang setiap hari bekerja. Menulis dia lakukan juga sehari-hari. Gak masalah, karena menulis juga termasuk pekerjaan. Dan sah-sah saja.Tentunya tidak akan ada yang membayar hasil kerja kerasnya, kalau tulisannya hanya mengendap di folder laptop saja. Tulisan itu harus dikirim ke penerbit atau media. Banyak nama-nama terkenal yang menjadikan tulisan sebagai pekerjaannya.

Tergantung dari niat kita masing-masing. Kitalah yang tahu, siapa kita dan mau dikemanakan tulisan kita. 


Tanngerang, 11 september 2016

Selasa, 06 September 2016

Obat Untuk Raja



 Terbit di Majalah Bobo, Agustus 2015

Langkah dua kurcaci terhenti, keraguan mulai menyelimuti. Beberapa kurcaci pernah diutus untuk mencari kaktus merah dan bunga lidah sepuluh semuanya tak menemukan hasil.
Aku tak yakin akan mendapatkannya,” Popo yang berbadan tegap membuka percakapan.
“Sama, aku juga sangat ragu, tapi demi kesembuhan baginda raja, amanat ini harus kita jalankan,” timpal Godi kurcaci yang lebih muda.
“Sesuai mimpiku kita harus ke utara. Ramuan itu ada di negeri manusia,” papar Godi sedikit gelisah.
“Aduh, manusia itukan jahat! Tak ada yang bisa pulang jika sudah terjebak di sana,” Popo semakin ketakutan. Soalnya cerita yang berkembang di negeri mereka, manusia itu adalah makhluk yang menyeramkan.
Kemudian kedua kurcaci itu melanjutkan perjalanannya lagi. Semak belukar, duri, binatang buas tak jadi penghalang buat mereka. Akhirnya tempat  tersebut ditemukan, tanaman kaktus merah dan bunga lidah sepuluh tumbuh subur.
“Wawwwww....indahnya Negeri Manusia!” Popo berdecak kagum.
 “Ayo cepat, jangan terlena!” ucap Godi menepuk bahu sahabatnya.
Keduanya dengan cepat menghambur ke tempat tumbuh-tumbuhan itu. Dengan sigap mereka memetiknya kemudian memasukkannya ke dalam tas yang terbuat dari kulit kayu.
 “Heyyyyyyy... jangan ambil tanamanku!” tiba-tiba jeritan lantang seorang perempuan tua keluar dari rumah.
 Keduanya panik bukan kepalang. Kaki mereka sangat gemetar, tak bisa dibawa lari.
“Maafkan kami, Nenek!” Godi menjurah hormat.
 “Sekarang ikut aku ke rumah! sebelum aku berteriak, dan orang-orang di sekitar sini menangkap kalian!”
Godi mencoba mantra Dumplek Tungtung yang terkenal di negeri mereka, tapi mulutnya terasa kaku, dia juga tak bisa menggerakkan tangannya.
“Ilmu kalian hambar di sini!”
Mereka saling pandang, Keduanya sangat pucat. Tak ada yang bisa dilakukan, selain menuruti perintah nenek itu.
“Aku tak bisa melihat negeri kita lagi,” bisik Popo. Godi mengangguk pasrah Negeri Kurcaci telah tertutup kabut tebal.
“Kenapa kalian lancang mengambil tanamanku?”  nenek itu menatap tajam.
“Hampir sebulan raja kami, Baginda Rendarf Alasarf sakit. Obatnya hanya kaktus merah dan bunga lidah sepuluh. Kami hanya mengikuti petunjuk mimpiku, bahwa tanaman ini ada di sini,”papar Godi sedih.
“Apapun alasan kalian, yang bersalah tetap harus dihukum.”
***
Akhirnya, kedua kurcaci itu menjalani hukuman. Mereka harus membantu merawat bunga-bunga tersebut. Lama kelamaan,  mereka merasa kasihan pada Nek Selme yang tinggal sendirian. Dengan senang hati mereka kemudian membantu Nek Selme mengerjakan pekerjaan yang lain. Seperti menyapu, menimba air dan membelah kayu bakar.
Aku ingin pulang! Aku rindu rumahku," keluh Popo suatu malam.
"Ya, aku juga memikirkan kesehatan baginda," timpal Godi.
“Tapi, bagaimana lagi? kita tidak berhasil menemukan jalan pulang. Mungkin setelah hukuman kita selesai, kita bisa pulang, makanya kita harus terus semangat dan tulus menjalaninya" sambung Godi lagi.
"Oleoo...wakaka...tur..tur..wket..wket...lala...lala...wket...wket...”Popo menyanyikan lagu Bangsa Kurcaci. Agar rindunya sedikit berkurang. Godi  kemudian ikut bernyanyi.
Karena asiknya mereka tak menyadari Nek Selme telah berada diantara mereka,  mulut Nek Selme bergerak-gerak mengikuti nyanyian itu.Walaupun sedikit sumbang tapi Nek Selme masih hapal dengan liriknya.
“Apakah Welang Biru raja kalian?” tanya Nek Selme. Mereka berhenti menyanyi dan  melongoh heran.
“Ya, itu adalah nama raja kami. Karena sangat bijaksana dan baik, kami rakyatnya memberi gelar Rendarf Alasarf atau berhati mulia,” Godi menjelaskan.
 “Pulanglah, Nenek rela kalian membawa tanaman-tanaman tersebut. Selamatkan sahabatku,” tutur Nek Selme sedih. Keduanya kembali melongoh.
Nek Selme menceritakan awal kisah persahabatan mereka, karena asiknya berburu Welang Biru tersesat sampai ke negeri manusia. Dia menjadi incaran orang-orang  untuk dijadikan pemain sirkus. Nek Selme kemudian menyelamatkannya. Selama pencarian jalan keluar menuju Negeri Kurcaci, Welang Biru mengajari Nek Selme bernyanyi Oleo Wakakaka.
Welang Biru juga memberinya sebuah gelang simbol Negeri Kurcaci yaitu akar pohon berulir sisik naga.
Usai bercerita Nek Selme buru-buru ke halaman depan. Dia sendiri yang memetik bunga-bunga tersebut. Mereka harus kembali secepatnya, supaya sahabatnya bisa selamat.
Nek Selme merapal mantera kemudian menyuruh keduanya menggeser sebuah batu hitam berbentuk kepala singa. Perlahan-lahan kabut tebal itu menghilang, tampaklah perbatasan negeri kurcaci.
“Hanya yang berhati tulus bisa menggeser batu itu, kembalilah! Sampaikan salamku pada Welang Biru,” Nek Selme memberikan bungkusan bunga-bunga itu.
       Keduanya saling pandang. Tak lupa mereka mengucapkan terimakasih atas kebaikan Nek Selme.Walaupun sedih, mereka harus pulang. Kapanpun mereka hendak berkunjung pintu selalu terbuka.
         “Selamat tinggal Nek Selme!” ucap mereka, kemudian tubuh keduanya menghilang seiring bergesernya batu hitam tersebut.
           Sambil tersenyum, Nek Selme membalas dengan lambaian tangan,” selamat jalan sahabatku.”

Bertualang Bersama Robot

Penulis  : Liza Erfiana Editor  : D. Kurniawan Ilustrator  : Alvin Adhi Cetakan Pertama  : Januari 2019 Penerbit  : Tiga Ananda H...