Sabtu, 18 Juni 2016

Kesombongan Tito



                                       
Terbit di Majalah Bobo tahun 2015


Sebelumnya Tito adalah tikus yang baik, suka menolong tanpa pamrih. Semua teman-teman di hutan sangat menyukainya.
Tapi sekarang Tito telah berubah. Gara-gara dia melepaskan Bobon banteng dari jeratan pemburu. Dia merasa bangga dan terkadang lupa diri karena merasa ada yang melindungi. Setiap kali teman-temannya protes jika Tito melakukan kesalahan, pasti ujung-ujungnya, “awas, ya, aku laporkan ke Paman Bobon!” ancamnya.
Siapa yang tidak kenal Paman Bobon? Banteng terkuat di hutan Anosia. Singa dan srigala saja takut kepadanya. Selain itu, Paman Bobon juga bijaksana dan merupakan salah satu sesepuh hutan. Mungkin karena hutang nyawa, Paman Tito lebih mempercayai  manisnya ucapan Tito.
Siang itu ibu beruang sedang mengadakan pesta, Berry anaknya ulang tahun. Seluruh penghuni hutan di undang, tidak terkecuali dengan Tito.
“Awas, ini tempat dudukku!” Tito mengusir Tutu tupai yang telah duduk di kursi paling depan.
“Enak aja, yang datang terlambat duduk di belakang, dong!” jawab Tutu tupai membela diri, dia juga ingin melihat pesta itu dari jarak dekat.
“Hey, Tutu, kamu lupa siapa saya?” Tito sedikit teriak.
“Tentu aku tidak lupa, kamu adalah tikus sombong,” ucapnya kemudian berlalu pergi. Karena melihat Paman Bobon menghampiri.
“Ada apa, Tito?” tanya Paman Bobon, bijaksana.
Eng...ahh, tadi Tutu hendak menyerobot tempat dudukku, untunglah aku bisa mengatasinya,” jawan Tito gugup.
“Ya, sudah lanjutkan pestamu!” paman Bobon mengucek rambut Tito, kemudian berlalu pergi. Tito memamerkan senyum kemenangannya kepada hadirin yang ada di dekatnya.
 Setiap hari pasti ada temannya yang bersedih karena ulahnya. Selo kelinci menangis sesenggukan karena kue kacang hijau kesukaannya dirampas oleh Tito. Ayi si Ayam hutan juga menjerit histeris, jagung kering rasa madu diambil oleh Tito.
Teman-temannya sepakat menghentikan ulah Tito, mereka akan menjebaknya. Supaya Paman Bobon tahu ulah Tito kesayangannya itu.
Suatu sore, teman-teman Tito bermain di halaman rumah Selo. Awalnya semua tampak gembira dan akrab, tiba-tiba datang Tito. Dia mulai beraksi.
“ Huh.. ganti dong permainannya. Ih, kelereng Ayi jelek banget. Sandal Selo kekecilan. Walah, baju Berry, koq, kusut banget, pasti gak kena setrika. Tito tak henti-hentinya meledek sambil tertawa-tawa riang.
“Kenapa sih, kamu suka mengejek kami?” Selo protes memberanikan diri.
“Aku senang kalau lihat kalian menangis, rasanya puasss...” Tito tertawa lagi sambil menari-nari.
“Oh, terus kalau kami melawan, kamu mengeluarkan jurus jitu. ‘Aku laporkan kalian ke Paman Bobon’, bukan begitu, Tito?”
“Betul sekali, Selo. Paman Bobon akan selalu membelaku. Karena aku pernah menyelamatkannya.”
Tito tak mengetahui ada sepasang telinga yang mendengar semua ucapannya dari balik pohon jati. Dia adalah Paman Bobon. Banteng besar itu hanya bisa geleng-geleng.
“Cukup Tito!” suara lantang Paman Bobon keluar dari persembunyiannya.
“Maaf, Paman. Mereka yang duluan meledekku,” ucapnya membalikkan fakta.
“Paman, sudah mendengar semuanya. Paman tidak akan membelamu, karena memang kamu yang salah.”
“Paman jahat, paman lupa bahwa aku pernah menyelamatkanmu!” ucapnya melawan Paman Bobon.
“Tentu aku tidak melupakan itu, Tito. Bukankah hidup rukun, damai dan berbagi itu lebih indah, daripada menyombongkan diri terus, “ Ucap Paman Tito bijaksana.
“Paman jahat, semua jahat..” ucap Tito sambil melompat pergi.
“Tito, mau kemana? Sebentar lagi hujan,” teriak paman Bobon, tapi Tito yang terlanjur malu dan marah tidak mengindahkannya.
***
Apa yang diperkirakan Paman Bobon akhirnya terjadi, sore itu hujan turun dengan lebat. Semua penghuni hutan sudah berada di rumahnya masing-masing. Lain halnya dengan Tito, tikus itu terjebak hujan dan tidak bisa pulang ke rumahnya.
Walaupun bisa berenang, tapi dalam keadaan hujan dia bisa terbawa arus. Tito menggigil kedinginan, ditambah lagi perutnya sangat lapar.
Akhh...tiba-tiba Tito terjatuh, dan tak ingat apa-apa lagi. Masih beruntung karena pohon tempatnya berteduh adalah rumah si Tutu tupai. Tutu segera turun dan menolong Tito.
“Terimakasih Tutu, untung ada kamu,” ucapnya masih dalam keadaan mengigil.
“Sesama teman memang harus saling menolong,” jawab Tutu sambil memberikan secangkir teh hangat kepada Tito.
“Maafkan aku, dulu pernah menyakitimu di pesta Berry,” sesal Tito.
“Aku sudah melupakannya, koq,” senyum Tutu mengembang.
Hujan sudah mulai reda, tampak dari kejauhan Paman Bobon dan yang lainnya memanggil-manggil Tito. Sepertinya mereka sangat mencemaskan keadaannya.
Tito terharu dan menangis. Walaupun dia telah berbuat jahat kepada mereka, tetapi teman-temannya masih memperdulikannya.
“Maafkan aku, teman-teman!” ucapnya dalam hati.
Semua hewan senang kini Tito telah menjadi tupai yang baik lagi. Mereka pun hidup damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bertualang Bersama Robot

Penulis  : Liza Erfiana Editor  : D. Kurniawan Ilustrator  : Alvin Adhi Cetakan Pertama  : Januari 2019 Penerbit  : Tiga Ananda H...